Perjalanan Mendampingi Seorang Dosen Hingga Berhasil Mendapatkan Scopus ID
Publikasi artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi menjadi salah satu pencapaian yang diimpikan banyak akademisi. Bukan semata karena ingin memiliki Scopus ID, tetapi karena proses menuju ke sana benar-benar menguji kesabaran, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar.
Saya memiliki kesempatan mendampingi seorang dosen yang sebelumnya belum pernah memiliki publikasi di jurnal terindeks Scopus. Awalnya beliau mengikuti workshop yang saya selenggarakan bersama kolega dengan tema "AI for Research".
Di workshop tersebut, kami tidak hanya membahas cara menggunakan AI untuk menulis artikel. Justru yang lebih banyak kami bahas adalah bagaimana memanfaatkan AI secara benar dalam penelitian. Mulai dari mencari research gap, menyusun kerangka artikel, mengoptimalkan proses penulisan, mencari referensi yang relevan, sampai etika penggunaan AI dalam dunia akademik. Jadi, AI benar-benar digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peneliti.
Workshop berlangsung secara intensif. Target kami sederhana, yaitu peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga berhasil membuat draft artikel yang siap disubmit ke jurnal. Syukurnya, peserta saya berhasil menyelesaikan naskahnya sampai tuntas.
Langkah berikutnya tentu mencari jurnal yang sesuai. Saya menyarankan untuk mengirimkan naskah di jurnal "Intercultural Communication" karena topik penelitian dosen tersebut seputar komunikasi. Jurnal itu sudah terindeks oleh Scopus.
Dengan penuh harapan, artikel tersebut disubmit. Tidak lama kemudian, keputusan pertama datang.
"Rejected"
Alasannya sebenarnya cukup sederhana. Topik penelitian yang dibahas dinilai kurang sesuai dengan scope jurnal tersebut. Ini menjadi pelajaran pertama bahwa kualitas artikel saja belum cukup. Kesesuaian topik dengan ruang lingkup jurnal juga menjadi faktor yang sangat menentukan.
Setelah membaca komentar editor, kami tidak menyerah. Saya membantu memperbaiki isi artikel agar lebih sesuai dengan scope jurnal tersebut. Beberapa bagian pembahasan saya ubah, fokus penelitian saya sesuaikan, dan beberapa referensi juga saya tambahkan.
Setelah merasa sudah jauh lebih baik, artikel kembali dikirim.
Sayangnya, hasilnya masih sama. Rejected untuk kedua kalinya.
Bedanya, kali ini alasannya bukan lagi karena scope. Editor jurnal tersebut menilai bahwa konteks penelitian yang dilakukan masih terlalu sempit. Mereka menginginkan penelitian dengan cakupan yang lebih luas, misalnya melibatkan responden dari tingkat nasional atau lintas wilayah. Sementara penelitian yang dosen tersebut miliki memang tidak dirancang untuk konteks sebesar itu.
Kalau harus mengubah cakupan penelitian, artinya dosen itu harus mengulang penelitian dari awal. Tentu itu bukan pilihan yang realistis.
Akhirnya saya menyarankan untuk berhenti mengejar jurnal tersebut dan mulai mencari jurnal lain yang lebih sesuai dengan karakter penelitian yang sudah ada.
Pilihan kami jatuh pada SEARCH JOURNAL OF MEDIA AND COMMUNICATION RESEARCH. Jurnal ini terindeks Scopus Q1 dengan nilai SJR 0.294 dan terindeks Web of Science juga dengan Journal Citation Indicator 0.48.
Sebelum artikel dikirim, saya membaca ulang seluruh isi manuskrip dari awal sampai akhir. Ada cukup banyak bagian yang saya rapikan.
Saya juga meminta dosen yang saya dampingi untuk ikut membaca ulang artikelnya sendiri. Kami berdiskusi beberapa kali sampai benar-benar yakin bahwa versi terakhir sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Barulah artikel tersebut kami submit.
Setelah menunggu sekitar kurang lebih 4 bulan, akhirnya email yang ditunggu-tunggu datang.
Statusnya bukan accepted. Bukan juga rejected. Melainkan mendapatkan komentar dari reviewer.
Bagi saya, ini justru kabar baik. Artinya artikel dianggap memiliki potensi untuk diterbitkan.
Komentar reviewer cukup banyak. Saya meminta dosen tersebut untuk mencoba merevisi terlebih dahulu berdasarkan komentar reviewer. Tujuannya supaya beliau juga memahami alasan di balik setiap revisi yang dilakukan.
Ketika ada beberapa komentar reviewer yang cukup sulit dipahami oleh dosen itu, kami diskusikan bersama. Beberapa bagian beliau revisi sendiri, sedangkan beberapa bagian lain saya bantu perbaiki karena memang membutuhkan penyesuaian yang lebih tajam.
Setelah semua komentar reviewer selesai dijawab satu per satu, artikel kembali kami kirim ke editor.
Kami kembali menunggu.
Beberapa waktu kemudian, editor memberikan satu permintaan lagi.
Artikel harus dipersingkat.
Dari sekitar 11.000 kata menjadi hanya sekitar 7.000 kata.
Jujur saja, ini justru menjadi salah satu revisi yang paling menantang. Menambah isi artikel mungkin masih relatif mudah. Tetapi mengurangi hampir empat ribu kata tanpa menghilangkan substansi penelitian membutuhkan ketelitian yang jauh lebih besar.
Kami mulai memilih bagian mana yang masih bisa diringkas, menghapus pengulangan, memadatkan pembahasan, serta menyederhanakan beberapa penjelasan tanpa mengurangi makna utamanya.
Setelah semua selesai, artikel kembali dikirim.
Tinggal menunggu keputusan akhir.
Penantian yang berlangsung sekitar 7 bulan sejak pertama kali artikel disubmit akhirnya terbayar.
Akhirnya naskah tersebut dinyatakan diterima.
Rasanya lega.
Bukan hanya karena artikelnya diterima, tetapi karena kami tahu berapa panjang proses yang sudah dilewati bersama. Dua kali ditolak, berkali-kali memperbaiki naskah, membaca komentar reviewer satu per satu, memangkas ribuan kata, sampai akhirnya artikel berhasil diterima di jurnal Scopus Q1.
Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa proses publikasi internasional bukan tentang siapa yang paling pintar. Yang paling menentukan justru siapa yang mau terus belajar, mau menerima kritik, dan tidak berhenti ketika mendapatkan penolakan.
Karena dalam dunia publikasi ilmiah, rejection bukan akhir dari perjalanan. Sering kali, rejection hanyalah langkah menuju jurnal yang memang paling tepat untuk penelitian yang kita miliki.
Naskah nya dapat diakses melalui link berikut:
https://fslmjournals.taylors.edu.my/intercultural-communication-and-conflict-in-the-classroom-a-case-study-of-a-generation-z-student-leader-in-indonesian-islamic-higher-education/